TARBIYAH
7A
A. KERIPIK
CENGEH (CABE) BAGUSA
B. LATAR
BELAKANG
Adalah
Pak Dul, seorang tetangga saya yang sekitar 2 tahunan ini menjalankan usaha
makanan ringan. Dan usaha yang dijalankan tersebut cukup lancar hingga mampu
membeli sepetak tanah dan membangun rumah.
Bila
melihat jauh ke belakang, pak Dul ini dulunya berjualan mie ayam di rumah
kontrakannya, namun karena tidak terlalu lancar hingga pak Dul ini memutar otak
pindah bisnis usaha makanan ringan.
Jenis
makan ringan pertamanya adalah krupuk yang dikemas dengan sambal sauce. Di
sinilah awal sukses dari bisnis pak Dul ini. Dengan dibantu tiga orang karyawan
yang masih tetangga sekitar kontrakan, pak Dul ini mendistribusikan jajanannya
ke toko-toko dan warung-warung, atau bila ada yang sekedar ingin cemilan di
rumah juga bisa langsung datang memesan.
Seiring
dengan waktu, krupuk pak Dul ini juga agak sepi peminatnya, hingga kemudian Pak
Dul ini mengganti jenis produknya dengan makaroni dan mie pluntir. Makaroni dan
mie pluntir ini tidak serta merta di jual dengan rasa original, namun sudah
dimodifikasinya dengan bumbu pedas racikannya yang ternyata memang diminati
oleh warga. Dan hingga sampai saat ini Pak Dul tetap setia menjalankan bisnis
tersebut dan tinggal di sebuah rumah permanen beserta istri dan dua orang
anaknya.
Karena
masyarakat sangat meminati janis cemilan yang pedas dan kebetulan saya sudah
mempunyai teman yang kebanyakan usahanya adalah toko rumahan, maka saya
tertarik untuk memasuki bisnis di dunia makanan ringan yang masih satu rasa
dengan makaroni dan mie pluntir pedasnya pak Dul.
C. PRODUK
Usaha
ini akan menjual produk makanan ringan jenis keripik singkong pedas.
1. Bahan
dan Peralatan
a. Bahan
Singkong, cabai merah,
garam, gula, minyak goreng, penyedap rasa, bumbu masak (misal royco).
b. Peralatan
Pisau, serut keripik,
blender, peralatan masak lainnya, plastik kemas, staples.
2. Proses
produksi
a. Mengolah
bahan
·
Membuat keripik
1) Pisahkan
singkong dari kulitnya
2) Bersihkan
singkong dengan cara direndam
3) Serut
singkong dengan serut keripik
4) Jemur
hingga kering
5) Goreng
hingga berwarna kuning.
NB (Untuk menyingkat
waktu produksi sebaiknya menggunakan keripik singkong yang sudah jadi.
·
Meracik bumbu
1) Cabai
merah dibersihkan dari bijinya
2) Keringkan
cabai merah dengan cara dijemur
3) Haluskan
Cabai merah yang sudah kering dan racik dengan bumbu masak (misal royco), gula,
penyedap rasa
4) Campur bumbu tersebut dengan keripik singkong sampai
rata.
b. Mengemas
1) Siapkan
plastik kemas
2) Masukkan
keripik singkong pedas
3) Tutup
dengan cara distaples ujung plastik kemas.
3. Tenaga
kerja
a. Tenaga
kerja produksi
Kita dapat memanfaatkan
dari pihak keluarga, tetangga atau bahkan teman yang membutuhkan pekerjaan.
b. Tenaga
kerja distribusi
Untuk merintis bisnis,
sebaiknya kita sendiri yang mendistribusikan produk kita.
D. PEMASARAN
1. Potensi
pasar
a. Sasaran
bisnis
Yang menjadi sasaran
bisnis adalah tempat yang menjadi pusat aktivitas perekonomian warga, yaitu :
·
Toko rumahan
·
Warung makan
·
kantin
b. Persaingan
pasar
Yang menjadi saingan
dalam pemasaran adalah produk-produk pabrikan dan produk-produk rumahan lain
yang telah ada sebelumnya.
2. Marketing
mix
a. Keunikan
dari keripik singkong ini berbentuk wajik (segitiga), rasa pedasnya beragam
sehingga pelanggan dapat memilih tingkatan pedasnya sesuai selera. Pelanggan
dapat mengetahui tingkat rasa pedas sesuai dengan tanda pada kemasan.
b. Harga
dalam satu kemasan berbeda-beda sesuai dengan ukuran dan tingkat pedas. Semakin
pedas maka harga juga akan bertambah. Dalam tiap pembelian minimal 5 bungkus
akan mendapatkan bonus gratis satu bungkus dengan tipe yang sama.
c. Agar
pelanggan dapat dengan mudah dan cepat mendapatkan keripik cengeh, maka tiap
pendistribusian akan disertakan kartu nama atau minimal nomer handphone yang
dapat dihubungi untuk memesan.
d. Dalam
rangka promosi atau publikasi produk, maka untuk pertama kali kita hanya
mendistribusikan produk dengan status titipan (menitipkan barang di
warung-warung ataupun toko-toko). Dan tiap 2 hari sekali kita akan mengecek
kembali produk kita, bila hasilnya bagus maka kita akan berani untuk menambah
barang yang akan kita titipkan.
E. MODAL
1. Modal
yang diperlukan
Untuk menghemat biaya
permodalan maka kita dapat memanfaatkan peralatan serta bahan-bahan yang
sekiranya sudah tersedia di rumah kita, seperti serut keripik, blender, pisau,
staples, dan wajan.
Modal utama yang
diperlukan untuk menyediakan keripik adalah sebesar Rp. 24.000,- per 2 kg (ini
ketika menggunakan keripik yang sudah jadi untuk menghemat waktu produksi).
Cabai merah ½ kg harganya Rp. 7000,-, bumbu masak (misal royco) 5 sachet dengan
harga Rp. 2500,-, penyedap rasa 1 kemasan Rp. 1000,-, plastik kemasan 1 bungkus
Rp. 5000,-, biaya distribusi harian Rp. 7000,- per hari.
Jadi total modal
keseluruhaan produksi dalam 1 hari (biaya operasional) yang dibutuhkan adalah Rp.
46.500,-.
Jadi dalam kurun waktu
1 minggu modal yang dibutuhkan sebesar 46.500 x 7 = Rp. 325.500,-.
2. Asal
modal
Mengenai asal modal,
kita menggunakan uang yang sempat kita tabung, atau dengan hasil gadaian alat
elektronik.
F. KEUANGAN
Modal
yang diperlukan dalam proses produksi dan biaya operasional dalam 1 minggu
sebesar Rp. 325.500,-.
Dalam
1 hari kita dapat menghasilkan 100 bungkus keripik cengeh dengan harga Rp.
500,- per bungkus dari 2 kg keripik singkong Rp. 24.000,-. Sehingga dari 100
bungkus tersebut kita dapat menghasilkan pundi uang sebesar Rp. 500.000,- dalam
1 hari.
Keuntungan
secara keseluruhan dalam 1 minggu adalah 500.000x7 = Rp. 3.500.000,-.
Keuntungan ini masih kita kurangi dengan gaji karyawan dan biaya operasional.
Gaji karyawan perhari adalah Rp. 10.000,- per-orang(dalam hal ini terdapat 3 karyawan).
Jadi
keuntungan bersih dalam 1 minggu yang masuk adalah keuntungan keseluruhan
(kotor) dikurangi biaya operasional harian dan dikurangi gaji karyawan.
3.500.000-325.500-(30.000x7)=3.500.000-325.500-210.000=2.964.500
Hubungan orang tua dan anak dapat juga dilihat dari
status sosial orang tuanya. Dalam karyanya yang berjudul “Social Class and
Parent Child Relationship” (kelas Sosial dan Hubungan Orang Tua Anak)
dikemukakan oleh Melvin Kohn bahwa orang tua pada lapisan pekerja dan lapisan
menengah mempunyai keinginan berbeda mengenai sifat-sifat yang ingin mereka
lihat pada anak mereka. Para orang tua lapisan pekerja, ditekankan pentingnya
anak menjadi seorang penurut, perwujudan kerapian bagi orang lain, dan
pentingnya keteraturan diwujudkan. Sementara itu, orang tua dari lapisan
menengah lebih menekankan pentingnya mengembangkan sifat-sifat ingin tahu,
kepuasan atau kebahagiaan pada anak, perhatian pada orang lain, dan hal-hal
yang ada di sekitarnya.
Anggapan orang tua terhadap anak yang berbeda-beda
inilah yang kemudian mewarnai hubungan
antara orang tua dan anak. Dalam kedua lapisan di atas, terdapat perbedaan
sikap orang tua dalam memberikan sanksi dalam mendidik anak. Bila anak
bersalah, orang tua pekerja lebih banyak menggunakan sanksi fisik dibanding
dengan orang tua lapisan menengah yang lebih mengadakan imbauan terhadap
penalaran anak.[1]
Orang tua pekerja yang memberikan sanksi yang
berorientasi pada ketaatan disebut dengan sanksi represif, dan orang tua
lapisan menengah yang berorientasi pada adanya imbauan disebut dengan sanksi
partisipasi. Sanksi yang represif menekankan pada hubungan terhadap perilaku yang salah, sedangkan
sanksi yang partisipasi memberikan imbalan terhadap perilaku baik.
Hubungan yang dibina antara orang tua dan anak kelas
pekerja, yang menggunakan cara memberi sanksi yang represif, dilakukan dengan
cara perintah dan melalui isyarat tertentu yang sifatnya nonverbal
communication. Adapun bagi orang tua kelas menengah, hubungan antara anak
dibangun dengan komunikasi dua arah yang sifatnya verbal.
Komunikasi bagi orang tua kelas pekerja menuntut anak
untuk memperhatikan keinginan orang tuanya, sedangkan bagi orang tua kelas
menengah, komunikasi antara anak dan orang tua dilakukan dengan cara
memperhatikan keinginan anak.[2]
Sementara itu status pendidikan orang tuapun sangat
mempengaruhi hubungan orang tua dan anak. Orang tua yang berpendidikan rendah
cenderung lebih tegas dalam memisahkan hubungan dan peranan anak laki-laki dan
perempuan. Sebaliknya mereka yang berpendidikan lebih tinggi memperlakukan anak
perempuan dan anak laki-laki secara egaliter.
Dengan demikian, hubungan orang tua dan anak ditentukan cara orang tua memosisikan anaknya
dan kedudukan (status) orang tuanya di tengah-tengah masyarakat.
Fenomena hubungan yang tidak harmonis antara orang tua
dan remaja telah lama menjadi kekhawatiran masyarakat diberbagai belahan dunia.
Ada suatu asumsi yang masih perlu diuji keabsahannya bahwa orang tua dan para
remaja berada dalam pertentangan yang lebih sering terjadi pada bangsa-bangsa
moderen dibandingkan dengan kurun waktu yang lalu. Padahal para remaja para
remaja memiliki persamaan dengan orang tua dalam politik, moral, selera makanan
dan pakaian. Namun entah mengapa dalam hubungannya dengan orang tua,
pertentangan lebih dominan mewarnai hubungan mereka.[3]
Banyak perspektif yang berusaha menjelaskan terjadinya
ketegangan antara orang tua dan remaja. Mulai dari analisis menurunnya dominasi
orang tua dan hilangnya wibawa institusi pendidikan beserta gurunya.
Pada bagian ini, ketegangan orang tua dan remaja
didasarkan atas pemikiran pendekatan konflik dari Kingsley Davis, yang dilatar-
belakangi oleh adanya perbedaan di antara dua generasi tersebut.
Remaja adalah generasi yang berumur 15 tahun sampai 20
tahun. Apabila mereka bersekolah,
batasannya adalah mereka yang belajar di SLTP, SLTA, dan tahun-tahun
awal memasuki perguruan tinggi.[4]
Perbedaan dan pertentangan antara remaja dan orang tua
secara universal disebabkan adanya perubahan sosial yang cepat. Melalui
perubahan itu, terciptalah konflik tersebut karena adanya alasan perbedaan yang
sifatnya instrinsik dan perbedaan yang sifatnya ekstrinsik.
Orang tua dan remaja berada dalam situasi yang
berbeda. Mungkin saja orang tua berada dalam situasi E, sedangkan remaja berada
pada situasi Bahwa, atau bisa juga perbedaan itu terjadi karena pada masa orang
tua yang berada pada situasi Bahwa, tidak sama dengan remaja pada situasi
sekarang.
Masalah-masalah yang menyebabkan terjadinya konflik
antara remaja dan orang tua, muncul karena pengaruh dari teman bermain. Pada
masa ini teman sebaya memiliki peranan yang sangat dalam mempengaruhi pola
perilaku seseorang. Pada saat ini, ketergantungan remaja dan orang tua
berkurang, terutama ketergantungan secara fisiologis (fisik). Ketergantungan
mereka beralih kepada teman sebaya. Hal ini disebabkan mereka sedang memulai
citra dirinya yang sesuai dengan dunia dewasa. Mereka membutuhkan penerimaan
dari dunia luarnya, dalam hal ini adalah lingkungan di luar keluarganya.
Pada saat lain, orang tua tidak begitu saja menerima
perubahan orientasi remaja. Mereka masih merasa memiliki otoritas dalam
mengatur anak-anaknya. Apalagi bila peran dan pendekatan orang tua terhadap
remaja menggunakan pola pendekatan “asal sesuai dengan keinginan bapak.” Tentu
saja remaja akan menganggap bahwa orang tua bukan lagi satu-satunya teman yang
bisa diajak berbicara.
Selain itu, konflik remaja dan orang tua juga terlihat
dalam masalah hubungan antarlawan jenis. Untuk memulai pengembaraan aspek
biologisnya, remaja mulai mempunyai teman lawan jenis (pacar). Hubungan dengan
pacarnya terkadang sampai pada batas hubungan pranikah. Sulit dibayangkan bila
hubungan antarlawan janis hanya terbatas pada hubungan perkenalan.[5]
Bagi sebagian remaja, pacaran mungkin merupakan sikap yang kurang religius,
kurang konformis, kurang dewasa, impulsif, manipulatif, dan cinta monyet.
Masalah hubungan remaja dengan lawan jenis telah
diteliti oleh Sri Herlyanti dalam skripsi yang berjudul,”Pandangan Orang Tua
dan Remaja mengenai Pemilihan Sekolah dan Kegiatan Belajar Sekolah, Aktivitas
dan Pergaulan”. Berdasarkan penelitiannya, tingkat variasi yang signifikan
antara pacaran pada masa SLTA sebanyak 62 % responden (para ibu) tidak
menyetujui anaknya berpacaran pada tingkat SLTA, sedangkan 96 % siswa SLTA
setuju bila mereka memulainya pada masa SLTA.[6]
Selain itu, faktor penting lainnya yang mempengaruhi
hubungan antara remaja dan orang tua ialah perbedaan fisiologis, psikososial
dan otoritas orang tua dan anak.[7]
Dengan demikian, terjadinya konflik antara orang tua
dan remaja disebabkan perbedaan cara pandang orang tua di satu sisi dan
perbedaan visi lainnya pada remaja.
[1]
Melvin L. Kohn, Social Class and Parent Child Relationship” dalam Stein,
Peter J. dkk The Family Function
Conflicts and Symbols, Reading Mass, 1977.
[2]
Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi , Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
UI, Jakarta 1993,hlm 181-183
[3]
Pernyatan ini didasarkan pada tulisan Kingsley Davis, The Sociology of
Parent Youth Conflik sebagaimana dikutip oleh William J. Goode dalam, The
Family, Terj Laila Hanoum, Bumi aksara, 1995 hlm.160.
[4]
Toenggoel P. Siagian, “Pendekatan Pokok dalam Mempertimbangkan Remaja Masa
Kini” dalam Prisma, Nomor 9 Tahun XIV 1985.
[5]
Sebagian masyarakat dunia, memperbolehkan anak muda untuk mencari pengalaman hubungan seksual sebelum menikah.
Mereka tidak lagi memperdulikan keperawanan, bahkan menganggap hal itu sebagai
sesuatu yang menggelikan. Tujuan utamanya ialah menentukan kesuburan seorang
gadis. Apabila ia mengandung, berarti ia siap menikah. Kegiatan seperti itu,
membuatnya aman dan tidak membahayakan. Hurton and Hurt, Sosiologi,
terj. Aminuddin Ram dan Tita Sobari,
Erlangga, 1996, hlm. 274-275.
[6]
Sri Herlyanti, Pandangan Orang Tua dan Remaja Mengenai Pemilihan Sekolah dan
Kegiatan Belajar Sekolah, Aktivitas dan Pergaulan. Skripsi FISIP UI,
Jakarta, 1989.
[7]
Orang tua dan remaja dalam keluarga
memiliki perbedaan mendasar. Perbedaan itu kemudian memicu konflik
karena adanya perbedaan wewenang dan kekuasaan antara remaja dan orang tua.
Orang tua memiliki otoritas yang luas, sedangkan remaja, dalam batas-batas
tertentu masih bergantung pada orang tua sehingga otoritasnya terbatas.
Banyak sekali faktor yang menyebabkan kenakalan remaja
maupun kelainan perilaku remaja pada umumnya, sehingga dapat dikatakan bahwa
faktor penyebab yang sesungguhnya sampai sekarang belum diketahui dengan pasti.
Walaupun demikian secara umum dapat dikatakan bahwa selain teori sosiogenik
tersebut di atas, teori-teori tentang asal mula kelainan perilaku remaja dapat
digolongkan dalam 2 jenis teori yang lain yaitu teori psikogenik dan teori
biogenik. Teori psikogenik menyatakan bahwa kelainan perilaku disebabkan oleh
faktor-faktor di dalam jiwa remaja itu sendiri, misalnya oleh Oedipoes Complex
jika ditilik betapa dia sangat mencintai ibunya, dan mungkin pula ia menderita
kelainan pada salah satu hormonnya sehingga ia bisa menjadi hiperaktif dan
agresif.[1]
Cara pembagian faktor penyebab kelainan perilaku anak
dan remaja dikemukakan pula oleh orang-orang lain seperti antara lain oleh
Philip Graham. Philip Graham lebih mendasarkan teorinya pada pengamatan empiris
dari sudut kesehatan mental anak dan remaja. Ia juga membagi faktor-faktor
penyebab itu ke dalam 2 golongan (Graham, 1983), yaitu :
1.
Faktor lingkungan:
a.
Malnutrisi (kekurangan
gizi)
b.
Kemiskinan di kota-kota besar
c.
Gangguan lingkungan (polusi,
kecelakaan lalu lintas, bencana alam, dan lain-lain)
d.
Migrasi (urbanisasi, pengungsian
karena perang, dan lain-lain)
e.
Faktor sekolah (kesalahan
mendidik, faktor kurikulum, dan lain-lain)
f.
Keluarga yang tercerai berai
(perceraian, perpisahan yang terlalu lama, dan lain-lain).
g.
Gangguan dalam pengasuhan oleh
keluarga:
1). Kematian orang tua.
2). Orang tua sakit berat atau cacat
3). Hubungan antar anggota keluarga tidak harmonis
4). Orang tua sakit jiwa
5).Kesulitan dalam pengasuhan karena pengangguran,
kesulitan keuangan, tempat tinggal tidak memenuhi syarat, dan lain-lain)
2.
Faktor pribadi:
a.
Faktor bakat yang mempengaruhi
temperamen (menjadi pemarah, hiperaktif, dan lain-lain)
b.
Cacat tubuh
c.
Ketidakmampuan untuk menyesuaikan
diri.[2]
Menurut W.A. Bonger dalam bukunya Inleiding tot de
Criminologie, antara lain mengemukakan :
Kenakalan remaja sudah merupakan bagian yang besar dalam kejahatan.
Kebanyakan penjahat yang sudah dewasa umumnya sudah sejak mudanya menjadi
penjahat, sudah merosot kesusilaannya sejak kecil barang siapa menyelidiki
sebab-sebab kenakalan remaja dapat mencari tindakan-tindakan pencegahan kenakalan
remaja itu sendiri, yang kemudian akan berpengaruh baik pula terhadap
pencegahan kejahatan orang dewasa.[3]
Dalam formulasi yang lain, Rusli Effendi
dan As- Alam, menyatakan :
Perlunya
diadakan penelitian yang mendalam di daerah-daerah di Indonesia mengenai
sebab-sebab kenakalan remaja. Karena tanpa penelitian tidak dapatlah diadakan
penanggalan secara efesien dan efektif, lagi pula motif-motif kenakalan di
berbagai daerah berbeda satu sama lain.[4]
Menurut pengalaman POLRI, sebagai dikutip oleh Ninik Widiyanti
dan Yullus Waskita, dalam menangani kasus yang terjadi di masyarakat dapat
dikatakan banyak faktor yang turut mempengaruhi terjadinya kenakalan remaja.
Untuk terjadinya suatu pelanggaran maka dua unsur harus bertemu yaitu niat
untuk melakukan suatu pelanggaran dan kesempatan untuk melaksanakan niat
tersebut. Jika hanya ada salah satu dari kedua unsur tersebut di atas maka
tidak akan terjadi apa-apa, yaitu ada niat untuk melakukan pelanggaran tetapi
tidak ada kesempatan untuk melaksanakan niat tersebut, maka tidak mungkin
terlaksana pelanggaran itu.[5]
H. Dadang Hawari, Psikiater mengatakan : remaja kita dalam
kehidupannya sehari-hari hidup dalam tiga kutub, yaitu kutub keluarga, sekolah
dan masyarakat. Kondisi masing-masing kutub dan interaksi antar ketiga kutub
itu, akan menghasilkan dampak yang posisif maupun negatif pada remaja. Dampak
positif misalnya prestasi sekolahnya baik dan tidak menunjukkan perilaku
antisosial. Sedangkan dampak negatif misalnya, prestasi sekolah merosot, dan
menunjukkan perilaku menyimpang (antisosial). Oleh karena itu pencegahan dan
penanganan dampak negatif tersebut, hendaknya ditujukan kepada ketiga kutub
tadi secara utuh dan tidak partial.[6]
Raema Andreyana, menguraikan faktor-faktor yang mendukung
terjadinya delinkuensi remaja, yang penulis simpulkan antara lain :
1.
Faktor keluarga, khususnya orang
tua. Dalam hal ini orang tua yang kurang memahami arti mendidik anak, dan yang
begitu sibuk bekerja.
2.
Hubungan suami istri yang kurang
harmonis
3.
Faktor lingkungan
4.
Faktor sekolah, termasuk di
dalamnya guru, pelajaran, tugas-tugas sekolah dan lain-lain yang berhubungan
dengan sekolah.[7]
Salah seorang ahli kriminologi di Indonesia, Soejono
dirdjosisworo, pada intinya membagi sebab musabab kenakalan remaja terdiri dari
:(1) sebab intern yang terdapat dalam diri si anak; (2) sebab eksteren yang
terdapat di luar diri si anak.
Ad. 1. sebab intern yang terdapat dalam diri si anak, terdiri
dari faktor intelegensia (kecerdasan), faktor usia, faktor jenis kelamin,
faktor kedudukan dalam keluarga, faktor kekecewaan dan konpensasi anak-anak
yang mengalami kekecewaan dan faktor kejiwaan.
Ad. 2. sebab eksteren yang terdapat di luar diri si anak,
meliputi keadaan rumah tangga, faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor
pergaulan dan faktor mass media.[8]
Sudarsono menguraikan sebab-sebab kenakalan remaja yang oleh
penulis disimpulkan sebagai berikut : kenakalan remaja akan muncul karena
beberapa sebab, baik karena salah satu maupun bersamaan, yaitu keadaan
keluarga, keadaan sekolah dan keadaan masyarakat.[9]
[1]
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja,cet. 7 Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2003,hlm.206.
[2]
Sarlito Wirawan Sarwono, ibid. hlm. 207.
[3]
W.A. Bonger, Inleiding tot de Criminologie, (terj. R.A. Koesnoen), cet
2, PT. Pembangunan, Jakarta,1983, hlm.139.
[4]
Lembaga Kriminologi Fakultas Hukum UNDIP, Laporan Seminar Kriminologi III,
Semarang, 1977, sebagaimana dikutip oleh Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi
Penelitian Hukum, Galia Indonesia,1983, hlm.139.
[5]
Ninik Widiyanti dan Yullus Waskita, Kejahatan dalam Masyarakat dan
Pencegahannya, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1987, hlm.116
[6]
H.Dadang Hawari, Psikiater, al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan
Jiwa, cet 8, PT. Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta, 1999, hlm.235.
[7]
Raema Andreyana dalam Kartini Kartono, Bimbingan Bagi Anak dan Remaja yang
Bermasalah, Ed. I, cet 2, CV. Rajawali, Jakarta, 1991. hlm.116-118.
[8]
Soejono Dirdjosisworo, Bunga Rampai Kriminologi, Armico, Bandung, 1985,
hlm.35-41
[9]
Sudarsono, Etika Islam tentang
Kenakalan Remaja, Bina Aksara, Jakarta, 1989, hlm.19-32

