Recent Posts

TARBIYAH 7A
A.    KERIPIK CENGEH (CABE) BAGUSA
B.     LATAR BELAKANG
Adalah Pak Dul, seorang tetangga saya yang sekitar 2 tahunan ini menjalankan usaha makanan ringan. Dan usaha yang dijalankan tersebut cukup lancar hingga mampu membeli sepetak tanah dan membangun rumah.
Bila melihat jauh ke belakang, pak Dul ini dulunya berjualan mie ayam di rumah kontrakannya, namun karena tidak terlalu lancar hingga pak Dul ini memutar otak pindah bisnis usaha makanan ringan.
Jenis makan ringan pertamanya adalah krupuk yang dikemas dengan sambal sauce. Di sinilah awal sukses dari bisnis pak Dul ini. Dengan dibantu tiga orang karyawan yang masih tetangga sekitar kontrakan, pak Dul ini mendistribusikan jajanannya ke toko-toko dan warung-warung, atau bila ada yang sekedar ingin cemilan di rumah juga bisa langsung datang memesan.
Seiring dengan waktu, krupuk pak Dul ini juga agak sepi peminatnya, hingga kemudian Pak Dul ini mengganti jenis produknya dengan makaroni dan mie pluntir. Makaroni dan mie pluntir ini tidak serta merta di jual dengan rasa original, namun sudah dimodifikasinya dengan bumbu pedas racikannya yang ternyata memang diminati oleh warga. Dan hingga sampai saat ini Pak Dul tetap setia menjalankan bisnis tersebut dan tinggal di sebuah rumah permanen beserta istri dan dua orang anaknya.
Karena masyarakat sangat meminati janis cemilan yang pedas dan kebetulan saya sudah mempunyai teman yang kebanyakan usahanya adalah toko rumahan, maka saya tertarik untuk memasuki bisnis di dunia makanan ringan yang masih satu rasa dengan makaroni dan mie pluntir pedasnya pak Dul.
C.     PRODUK
Usaha ini akan menjual produk makanan ringan jenis keripik singkong pedas.
1.      Bahan dan Peralatan
a.       Bahan
Singkong, cabai merah, garam, gula, minyak goreng, penyedap rasa, bumbu masak (misal royco).
b.      Peralatan
Pisau, serut keripik, blender, peralatan masak lainnya, plastik kemas, staples.
2.      Proses produksi
a.       Mengolah bahan
·         Membuat keripik
1)      Pisahkan singkong dari kulitnya
2)      Bersihkan singkong dengan cara direndam
3)      Serut singkong dengan serut keripik
4)      Jemur hingga kering
5)      Goreng hingga berwarna kuning.
NB (Untuk menyingkat waktu produksi sebaiknya menggunakan keripik singkong yang sudah jadi.
·         Meracik bumbu
1)      Cabai merah dibersihkan dari bijinya
2)      Keringkan cabai merah dengan cara dijemur
3)      Haluskan Cabai merah yang sudah kering dan racik dengan bumbu masak (misal royco), gula, penyedap rasa
4)      Campur  bumbu tersebut dengan keripik singkong sampai rata.
b.      Mengemas
1)      Siapkan plastik kemas
2)      Masukkan keripik singkong pedas
3)      Tutup dengan cara distaples ujung plastik kemas.
3.      Tenaga kerja
a.       Tenaga kerja produksi
Kita dapat memanfaatkan dari pihak keluarga, tetangga atau bahkan teman yang membutuhkan pekerjaan.
b.      Tenaga kerja distribusi
Untuk merintis bisnis, sebaiknya kita sendiri yang mendistribusikan produk kita.
D.    PEMASARAN
1.      Potensi pasar
a.       Sasaran bisnis
Yang menjadi sasaran bisnis adalah tempat yang menjadi pusat aktivitas perekonomian warga, yaitu :
·         Toko rumahan
·         Warung makan
·         kantin
b.      Persaingan pasar
Yang menjadi saingan dalam pemasaran adalah produk-produk pabrikan dan produk-produk rumahan lain yang telah ada sebelumnya.
2.      Marketing mix
a.       Keunikan dari keripik singkong ini berbentuk wajik (segitiga), rasa pedasnya beragam sehingga pelanggan dapat memilih tingkatan pedasnya sesuai selera. Pelanggan dapat mengetahui tingkat rasa pedas sesuai dengan tanda pada kemasan.
b.      Harga dalam satu kemasan berbeda-beda sesuai dengan ukuran dan tingkat pedas. Semakin pedas maka harga juga akan bertambah. Dalam tiap pembelian minimal 5 bungkus akan mendapatkan bonus gratis satu bungkus dengan tipe yang sama.
c.       Agar pelanggan dapat dengan mudah dan cepat mendapatkan keripik cengeh, maka tiap pendistribusian akan disertakan kartu nama atau minimal nomer handphone yang dapat dihubungi untuk memesan.
d.      Dalam rangka promosi atau publikasi produk, maka untuk pertama kali kita hanya mendistribusikan produk dengan status titipan (menitipkan barang di warung-warung ataupun toko-toko). Dan tiap 2 hari sekali kita akan mengecek kembali produk kita, bila hasilnya bagus maka kita akan berani untuk menambah barang yang akan kita titipkan.
E.     MODAL
1.      Modal yang diperlukan
Untuk menghemat biaya permodalan maka kita dapat memanfaatkan peralatan serta bahan-bahan yang sekiranya sudah tersedia di rumah kita, seperti serut keripik, blender, pisau, staples, dan wajan.
Modal utama yang diperlukan untuk menyediakan keripik adalah sebesar Rp. 24.000,- per 2 kg (ini ketika menggunakan keripik yang sudah jadi untuk menghemat waktu produksi). Cabai merah ½ kg harganya Rp. 7000,-, bumbu masak (misal royco) 5 sachet dengan harga Rp. 2500,-, penyedap rasa 1 kemasan Rp. 1000,-, plastik kemasan 1 bungkus Rp. 5000,-, biaya distribusi harian Rp. 7000,- per hari.
Jadi total modal keseluruhaan produksi dalam 1 hari (biaya operasional) yang dibutuhkan adalah Rp. 46.500,-.
Jadi dalam kurun waktu 1 minggu modal yang dibutuhkan sebesar 46.500 x 7 = Rp. 325.500,-.
2.      Asal modal
Mengenai asal modal, kita menggunakan uang yang sempat kita tabung, atau dengan hasil gadaian alat elektronik.
F.      KEUANGAN
Modal yang diperlukan dalam proses produksi dan biaya operasional dalam 1 minggu sebesar Rp. 325.500,-.
Dalam 1 hari kita dapat menghasilkan 100 bungkus keripik cengeh dengan harga Rp. 500,- per bungkus dari 2 kg keripik singkong Rp. 24.000,-. Sehingga dari 100 bungkus tersebut kita dapat menghasilkan pundi uang sebesar Rp. 500.000,- dalam 1 hari.
Keuntungan secara keseluruhan dalam 1 minggu adalah 500.000x7 = Rp. 3.500.000,-. Keuntungan ini masih kita kurangi dengan gaji karyawan dan biaya operasional. Gaji karyawan perhari adalah Rp. 10.000,- per-orang(dalam hal ini terdapat 3 karyawan).
Jadi keuntungan bersih dalam 1 minggu yang masuk adalah keuntungan keseluruhan (kotor) dikurangi biaya operasional harian dan dikurangi gaji karyawan.
3.500.000-325.500-(30.000x7)=3.500.000-325.500-210.000=2.964.500
 
 


Hubungan orang tua dan anak dapat juga dilihat dari status sosial orang tuanya. Dalam karyanya yang berjudul “Social Class and Parent Child Relationship” (kelas Sosial dan Hubungan Orang Tua Anak) dikemukakan oleh Melvin Kohn bahwa orang tua pada lapisan pekerja dan lapisan menengah mempunyai keinginan berbeda mengenai sifat-sifat yang ingin mereka lihat pada anak mereka. Para orang tua lapisan pekerja, ditekankan pentingnya anak menjadi seorang penurut, perwujudan kerapian bagi orang lain, dan pentingnya keteraturan diwujudkan. Sementara itu, orang tua dari lapisan menengah lebih menekankan pentingnya mengembangkan sifat-sifat ingin tahu, kepuasan atau kebahagiaan pada anak, perhatian pada orang lain, dan hal-hal yang ada di sekitarnya.
Anggapan orang tua terhadap anak yang berbeda-beda inilah yang kemudian mewarnai  hubungan antara orang tua dan anak. Dalam kedua lapisan di atas, terdapat perbedaan sikap orang tua dalam memberikan sanksi dalam mendidik anak. Bila anak bersalah, orang tua pekerja lebih banyak menggunakan sanksi fisik dibanding dengan orang tua lapisan menengah yang lebih mengadakan imbauan terhadap penalaran anak.[1]
Orang tua pekerja yang memberikan sanksi yang berorientasi pada ketaatan disebut dengan sanksi represif, dan orang tua lapisan menengah yang berorientasi pada adanya imbauan disebut dengan sanksi partisipasi. Sanksi yang represif menekankan pada hubungan  terhadap perilaku yang salah, sedangkan sanksi yang partisipasi memberikan imbalan terhadap perilaku baik.
Hubungan yang dibina antara orang tua dan anak kelas pekerja, yang menggunakan cara memberi sanksi yang represif, dilakukan dengan cara perintah dan melalui isyarat tertentu yang sifatnya nonverbal communication. Adapun bagi orang tua kelas menengah, hubungan antara anak dibangun dengan komunikasi dua arah yang sifatnya verbal.
Komunikasi bagi orang tua kelas pekerja menuntut anak untuk memperhatikan keinginan orang tuanya, sedangkan bagi orang tua kelas menengah, komunikasi antara anak dan orang tua dilakukan dengan cara memperhatikan keinginan anak.[2]
Sementara itu status pendidikan orang tuapun sangat mempengaruhi hubungan orang tua dan anak. Orang tua yang berpendidikan rendah cenderung lebih tegas dalam memisahkan hubungan dan peranan anak laki-laki dan perempuan. Sebaliknya mereka yang berpendidikan lebih tinggi memperlakukan anak perempuan dan anak laki-laki secara egaliter.
Dengan demikian, hubungan orang tua dan  anak ditentukan cara orang tua memosisikan anaknya dan kedudukan (status) orang tuanya di tengah-tengah masyarakat.
Fenomena hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan remaja telah lama menjadi kekhawatiran masyarakat diberbagai belahan dunia. Ada suatu asumsi yang masih perlu diuji keabsahannya bahwa orang tua dan para remaja berada dalam pertentangan yang lebih sering terjadi pada bangsa-bangsa moderen dibandingkan dengan kurun waktu yang lalu. Padahal para remaja para remaja memiliki persamaan dengan orang tua dalam politik, moral, selera makanan dan pakaian. Namun entah mengapa dalam hubungannya dengan orang tua, pertentangan lebih dominan mewarnai hubungan mereka.[3]
Banyak perspektif yang berusaha menjelaskan terjadinya ketegangan antara orang tua dan remaja. Mulai dari analisis menurunnya dominasi orang tua dan hilangnya wibawa institusi pendidikan beserta gurunya.
Pada bagian ini, ketegangan orang tua dan remaja didasarkan atas pemikiran pendekatan konflik dari Kingsley Davis, yang dilatar- belakangi oleh adanya perbedaan di antara dua generasi tersebut.
Remaja adalah generasi yang berumur 15 tahun sampai 20 tahun. Apabila mereka bersekolah,  batasannya adalah mereka yang belajar di SLTP, SLTA, dan tahun-tahun awal memasuki perguruan tinggi.[4]
Perbedaan dan pertentangan antara remaja dan orang tua secara universal disebabkan adanya perubahan sosial yang cepat. Melalui perubahan itu, terciptalah konflik tersebut karena adanya alasan perbedaan yang sifatnya instrinsik dan perbedaan yang sifatnya ekstrinsik.
Orang tua dan remaja berada dalam situasi yang berbeda. Mungkin saja orang tua berada dalam situasi E, sedangkan remaja berada pada situasi Bahwa, atau bisa juga perbedaan itu terjadi karena pada masa orang tua yang berada pada situasi Bahwa, tidak sama dengan remaja pada situasi sekarang.
Masalah-masalah yang menyebabkan terjadinya konflik antara remaja dan orang tua, muncul karena pengaruh dari teman bermain. Pada masa ini teman sebaya memiliki peranan yang sangat dalam mempengaruhi pola perilaku seseorang. Pada saat ini, ketergantungan remaja dan orang tua berkurang, terutama ketergantungan secara fisiologis (fisik). Ketergantungan mereka beralih kepada teman sebaya. Hal ini disebabkan mereka sedang memulai citra dirinya yang sesuai dengan dunia dewasa. Mereka membutuhkan penerimaan dari dunia luarnya, dalam hal ini adalah lingkungan di luar keluarganya.
Pada saat lain, orang tua tidak begitu saja menerima perubahan orientasi remaja. Mereka masih merasa memiliki otoritas dalam mengatur anak-anaknya. Apalagi bila peran dan pendekatan orang tua terhadap remaja menggunakan pola pendekatan “asal sesuai dengan keinginan bapak.” Tentu saja remaja akan menganggap bahwa orang tua bukan lagi satu-satunya teman yang bisa diajak berbicara.
Selain itu, konflik remaja dan orang tua juga terlihat dalam masalah hubungan antarlawan jenis. Untuk memulai pengembaraan aspek biologisnya, remaja mulai mempunyai teman lawan jenis (pacar). Hubungan dengan pacarnya terkadang sampai pada batas hubungan pranikah. Sulit dibayangkan bila hubungan antarlawan janis hanya terbatas pada hubungan perkenalan.[5] Bagi sebagian remaja, pacaran mungkin merupakan sikap yang kurang religius, kurang konformis, kurang dewasa, impulsif, manipulatif, dan cinta monyet.
Masalah hubungan remaja dengan lawan jenis telah diteliti oleh Sri Herlyanti dalam skripsi yang berjudul,”Pandangan Orang Tua dan Remaja mengenai Pemilihan Sekolah dan Kegiatan Belajar Sekolah, Aktivitas dan Pergaulan”. Berdasarkan penelitiannya, tingkat variasi yang signifikan antara pacaran pada masa SLTA sebanyak 62 % responden (para ibu) tidak menyetujui anaknya berpacaran pada tingkat SLTA, sedangkan 96 % siswa SLTA setuju bila mereka memulainya pada masa SLTA.[6] 
Selain itu, faktor penting lainnya yang mempengaruhi hubungan antara remaja dan orang tua ialah perbedaan fisiologis, psikososial dan otoritas orang tua dan anak.[7]
Dengan demikian, terjadinya konflik antara orang tua dan remaja disebabkan perbedaan cara pandang orang tua di satu sisi dan perbedaan visi lainnya pada remaja.     


[1] Melvin L. Kohn, Social Class and Parent Child Relationship” dalam Stein, Peter J. dkk  The Family Function Conflicts and Symbols, Reading Mass, 1977.
[2] Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi , Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta 1993,hlm 181-183
[3] Pernyatan ini didasarkan pada tulisan Kingsley Davis, The Sociology of Parent Youth Conflik sebagaimana dikutip oleh William J. Goode dalam, The Family, Terj Laila Hanoum, Bumi aksara, 1995 hlm.160.
[4] Toenggoel P. Siagian, “Pendekatan Pokok dalam Mempertimbangkan Remaja Masa Kini” dalam Prisma, Nomor 9 Tahun XIV 1985.
[5] Sebagian masyarakat dunia, memperbolehkan anak muda untuk mencari  pengalaman hubungan seksual sebelum menikah. Mereka tidak lagi memperdulikan keperawanan, bahkan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang menggelikan. Tujuan utamanya ialah menentukan kesuburan seorang gadis. Apabila ia mengandung, berarti ia siap menikah. Kegiatan seperti itu, membuatnya aman dan tidak membahayakan. Hurton and Hurt, Sosiologi, terj. Aminuddin Ram  dan Tita Sobari, Erlangga, 1996, hlm. 274-275.
[6] Sri Herlyanti, Pandangan Orang Tua dan Remaja Mengenai Pemilihan Sekolah dan Kegiatan Belajar Sekolah, Aktivitas dan Pergaulan. Skripsi FISIP UI, Jakarta, 1989.
[7] Orang tua dan remaja dalam keluarga  memiliki perbedaan mendasar. Perbedaan itu kemudian memicu konflik karena adanya perbedaan wewenang dan kekuasaan antara remaja dan orang tua. Orang tua memiliki otoritas yang luas, sedangkan remaja, dalam batas-batas tertentu masih bergantung pada orang tua sehingga otoritasnya terbatas.



Banyak sekali faktor yang menyebabkan kenakalan remaja maupun kelainan perilaku remaja pada umumnya, sehingga dapat dikatakan bahwa faktor penyebab yang sesungguhnya sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Walaupun demikian secara umum dapat dikatakan bahwa selain teori sosiogenik tersebut di atas, teori-teori tentang asal mula kelainan perilaku remaja dapat digolongkan dalam 2 jenis teori yang lain yaitu teori psikogenik dan teori biogenik. Teori psikogenik menyatakan bahwa kelainan perilaku disebabkan oleh faktor-faktor di dalam jiwa remaja itu sendiri, misalnya oleh Oedipoes Complex jika ditilik betapa dia sangat mencintai ibunya, dan mungkin pula ia menderita kelainan pada salah satu hormonnya sehingga ia bisa menjadi hiperaktif dan agresif.[1]
Cara pembagian faktor penyebab kelainan perilaku anak dan remaja dikemukakan pula oleh orang-orang lain seperti antara lain oleh Philip Graham. Philip Graham lebih mendasarkan teorinya pada pengamatan empiris dari sudut kesehatan mental anak dan remaja. Ia juga membagi faktor-faktor penyebab itu ke dalam 2 golongan (Graham, 1983), yaitu :
1.      Faktor lingkungan:
a.       Malnutrisi (kekurangan gizi)
b.      Kemiskinan di kota-kota besar
c.       Gangguan lingkungan (polusi, kecelakaan lalu lintas, bencana alam, dan lain-lain)
d.      Migrasi (urbanisasi, pengungsian karena perang, dan lain-lain)
e.       Faktor sekolah (kesalahan mendidik, faktor kurikulum, dan lain-lain)
f.       Keluarga yang tercerai berai (perceraian, perpisahan yang terlalu lama, dan lain-lain).
g.      Gangguan dalam pengasuhan oleh keluarga:
1). Kematian orang tua.
2). Orang tua sakit berat atau cacat
3). Hubungan antar anggota keluarga tidak harmonis
4). Orang tua sakit jiwa
5).Kesulitan dalam pengasuhan karena pengangguran, kesulitan keuangan, tempat tinggal tidak memenuhi syarat, dan lain-lain)
2.      Faktor pribadi:
a.        Faktor bakat yang mempengaruhi temperamen (menjadi pemarah, hiperaktif, dan lain-lain)
b.    Cacat tubuh
c.        Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri.[2]
Menurut W.A. Bonger dalam bukunya Inleiding tot de Criminologie, antara lain mengemukakan :
Kenakalan remaja sudah merupakan bagian yang besar dalam kejahatan. Kebanyakan penjahat yang sudah dewasa umumnya sudah sejak mudanya menjadi penjahat, sudah merosot kesusilaannya sejak kecil barang siapa menyelidiki sebab-sebab kenakalan remaja dapat mencari tindakan-tindakan pencegahan kenakalan remaja itu sendiri, yang kemudian akan berpengaruh baik pula terhadap pencegahan kejahatan orang dewasa.[3]
     Dalam formulasi yang lain, Rusli Effendi dan As- Alam, menyatakan :
Perlunya diadakan penelitian yang mendalam di daerah-daerah di Indonesia mengenai sebab-sebab kenakalan remaja. Karena tanpa penelitian tidak dapatlah diadakan penanggalan secara efesien dan efektif, lagi pula motif-motif kenakalan di berbagai daerah berbeda satu sama lain.[4]

Menurut pengalaman POLRI, sebagai dikutip oleh Ninik Widiyanti dan Yullus Waskita, dalam menangani kasus yang terjadi di masyarakat dapat dikatakan banyak faktor yang turut mempengaruhi terjadinya kenakalan remaja. Untuk terjadinya suatu pelanggaran maka dua unsur harus bertemu yaitu niat untuk melakukan suatu pelanggaran dan kesempatan untuk melaksanakan niat tersebut. Jika hanya ada salah satu dari kedua unsur tersebut di atas maka tidak akan terjadi apa-apa, yaitu ada niat untuk melakukan pelanggaran tetapi tidak ada kesempatan untuk melaksanakan niat tersebut, maka tidak mungkin terlaksana pelanggaran itu.[5]
H. Dadang Hawari, Psikiater mengatakan : remaja kita dalam kehidupannya sehari-hari hidup dalam tiga kutub, yaitu kutub keluarga, sekolah dan masyarakat. Kondisi masing-masing kutub dan interaksi antar ketiga kutub itu, akan menghasilkan dampak yang posisif maupun negatif pada remaja. Dampak positif misalnya prestasi sekolahnya baik dan tidak menunjukkan perilaku antisosial. Sedangkan dampak negatif misalnya, prestasi sekolah merosot, dan menunjukkan perilaku menyimpang (antisosial). Oleh karena itu pencegahan dan penanganan dampak negatif tersebut, hendaknya ditujukan kepada ketiga kutub tadi secara utuh dan tidak partial.[6]
Raema Andreyana, menguraikan faktor-faktor yang mendukung terjadinya delinkuensi remaja, yang penulis simpulkan antara lain :
1.      Faktor keluarga, khususnya orang tua. Dalam hal ini orang tua yang kurang memahami arti mendidik anak, dan yang begitu sibuk bekerja.
2.      Hubungan suami istri yang kurang harmonis
3.      Faktor lingkungan
4.      Faktor sekolah, termasuk di dalamnya guru, pelajaran, tugas-tugas sekolah dan lain-lain yang berhubungan dengan sekolah.[7]
Salah seorang ahli kriminologi di Indonesia, Soejono dirdjosisworo, pada intinya membagi sebab musabab kenakalan remaja terdiri dari :(1) sebab intern yang terdapat dalam diri si anak; (2) sebab eksteren yang terdapat di luar diri si anak.
Ad. 1. sebab intern yang terdapat dalam diri si anak, terdiri dari faktor intelegensia (kecerdasan), faktor usia, faktor jenis kelamin, faktor kedudukan dalam keluarga, faktor kekecewaan dan konpensasi anak-anak yang mengalami kekecewaan dan faktor kejiwaan.
Ad. 2. sebab eksteren yang terdapat di luar diri si anak, meliputi keadaan rumah tangga, faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor pergaulan dan faktor mass media.[8]
Sudarsono menguraikan sebab-sebab kenakalan remaja yang oleh penulis disimpulkan sebagai berikut : kenakalan remaja akan muncul karena beberapa sebab, baik karena salah satu maupun bersamaan, yaitu keadaan keluarga, keadaan sekolah dan keadaan masyarakat.[9]


[1] Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja,cet. 7 Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003,hlm.206.
[2] Sarlito Wirawan Sarwono, ibid. hlm. 207.
[3] W.A. Bonger, Inleiding tot de Criminologie, (terj. R.A. Koesnoen), cet 2, PT. Pembangunan, Jakarta,1983, hlm.139.
[4] Lembaga Kriminologi Fakultas Hukum UNDIP, Laporan Seminar Kriminologi III, Semarang, 1977, sebagaimana dikutip oleh Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, Galia Indonesia,1983, hlm.139.
[5] Ninik Widiyanti dan Yullus Waskita, Kejahatan dalam Masyarakat dan Pencegahannya, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1987, hlm.116
[6] H.Dadang Hawari, Psikiater, al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, cet 8, PT. Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta, 1999, hlm.235.
[7] Raema Andreyana dalam Kartini Kartono, Bimbingan Bagi Anak dan Remaja yang Bermasalah, Ed. I, cet 2, CV. Rajawali, Jakarta, 1991. hlm.116-118.

[8] Soejono Dirdjosisworo, Bunga Rampai Kriminologi, Armico, Bandung, 1985, hlm.35-41
[9] Sudarsono, Etika Islam  tentang Kenakalan Remaja, Bina Aksara, Jakarta, 1989, hlm.19-32

Recent Comments

HAD'S FRIENDS bagi ngilmu lan kaweruh bagi ngilmu lan kaweruh bagi ngilmu lan kaweruh