Sunday, 14 July 2013

Manusia dalam Konsepsi Ibnu Khaldun dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam

Posted by hade SOETJIPTO on 23:11


BAB I
PENDAHULUAN

Dalam Islam, manusia dianggap sebagai khalifah di bumi dan seluruh ciptaan lainnya tunduk kepada manusia. Menurut al-Qur’an (2:30-31), setelah menciptakan manusia pertama Adam, Allah SWT mengajarkan kepadanya nama-nama segala benda.[1] Dengan kebesaran-Nya, Allah SWT menciptakan segalanya dari tiada menjadi ada. Kehendaknya adalah sumber ciptaan dan setiap unsur dalam ciptaan memanifestasikan kekuasaan Allah SWT. Karena itu setiap objek dalam ciptaan menunjukkan kualitas dan sifat-sifat Tuhan. Dengan memberitahukan kepada Adam nama-nama benda, berarti membuatnya sadar akan esensi ciptaan. Dengan kata lain membuat sadar akan sifat-sifat Tuhan dan hubungan antara Tuhan dan ciptan-Nya. Ini bukanlah semata-mata kesadaran intetektual yang terpisah dari kesadaran spiritual. Ini adalah kesadaran spiritual yang mengontrol, membimbing, dan mempertajam intelek, dengan menanamkan dalam diri nabi Adam perasaan ta’dzim dan hormat kepada Tuhan dan membuatnya mampu menggunakan pengetahuan yang dimilikinya itu untuk kepentingan ummat manusia.[2]
Konsepsi manusia sangat penting artinya dalam suatu sistem pemikiran dan di dalam kerangka berfikir seorang pemikir. Konsep manusia sangat penting,  karena itu termasuk bagian dari pandangan hidup.[3]  Karenanya meskipun manusia tetap diakui sebagai misteri yang tidak pernah tuntas, keinginan untuk mengetahui hakikatnya ternyata tidak pernah berhenti. Pandangan mengenai manusia berkaitan erat dan bahkan merupakan bagian dari sistem kepercayaan yang akhirnya akan memperlihatkan corak peradabannya.
Dengan demikian pandangan tentang hakikat manusia merupakan masalah sentral yang mewarnai berbagai segi peradaban yang dibangun diatasnya. Konsep manusia tersebut sangat penting bukan demi pengetahuan akan manusia itu sendiri, tetapi lebih penting adalah ia merupakan syarat bagi pembenaran kritis dan landasan yang aman bagi pengetahuan manusia.
Allah SWT menyuruh manusia untuk menyadari dirinya sendiri, merenungkan dan memikirkan hakikat hidupnya dari mana asalnya dan hendak kemana dia, serta bagaimana ia hidup didunia ini. Sebagaimana Firman Allah SWT:

وفي  انفسكم افلا تبصرون ) الذاريات : (٢١


Artinya  :  “dan (juga) pada dirimu sendiri, Maka apakah kamu tidak memperhatiakan”. (Q.S. Adz-Dzaariyaat : 21).[4]

Menurut Murtadha Muthahari merenungkan manusia tidaklah semata-mata karena al-Qur’an menyuruhnya sebagaimana ayat diatas, tetapi ia merenungkan manusia untuk mencerahkannya, menyadarkannya dan membawa hidup dalam sistem Illahiyah yang luhur.[5]
Manusia perlu mengenal dan memahami hakikat dirinya sendiri agar mampu mewujudkan eksistensinya. Pengenalan dan pemahaman ini akan mengantar manusia kepada kesediaan mencari makna dan arti kehidupan sehingga hidupnya tidak menjadi sia-sia. Dalam pengertian ini dimaksudkan makna dan arti sebagai hamba Allah SWT dalam rangka menjalankan hak dan kewajiban atau kebebasan dan tanggung jawab mencari ridla-Nya.[6]
Agustinus memperhatikan manusia sebagai makhluk yang menakjubkan. Karl Jasper menyebut manusia sebagai makhluk yang unik, serba meliputi, sangat terbuka, punya potensi yang agung tetapi juga bahaya yang terbesar bagi dirinya.[7]
Aliran Behavourisme yang disponsori oleh Ivan Pavlav dan kawan-kawannya memandang lemah terhadap manusia, mengingkari potensi alami yang dipunyai manusia, padahal secara empirik perbedaan individual antara manusia dan manusia lain begitu banyak terlihat. Aliran ini kurang menghargai bakat dan potensi alami manusia, apapun jadinya seseorang, maka satu-satunya yang menentukan adalah lingkungannya. Aliran ini cenderung mereduksi hakikat manusia karena menurutnya manusia tidak memiliki jiwa, kemauan, dan kebebasan untuk menentukan tingkah lakunya.[8]
Psikoanalisis (Freud) berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh naluri biologis, mengejar kesenangan dan menghindari hal-hal yang tidak mengenakan. Pandangan yang seperti ini melihat manusia tidak begitu beda dengan binatang, kasar, agresif, tamak, dan mementingkan diri sendiri. Kaum Humanis (Maslow) memandang manusia memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari binatang. Ia tidak saja digerakkan oleh dorongan biologis tetapi juga oleh kebutuhan untuk mengembangakan dirinya sampai bentuk yang ideal (Self Actualization) manusia yang unik, rasional, bertanggungjawab dan memiliki kesadaran.[9]
Islam berpandangan bahwa hakikat manusia adalah merupakan perkaitan antara badan dan ruh. Keduanya merupakan substansi yang berdiri sendiri dan makhluk yang diciptakan Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam al-Qur’an :

واذ قال ربك للملئكة اني خالق بشرا من صلصا ل من حما مسنون.

 فاذا سويته ونفخت فيه من روحي فقعوا له سجدين.) الحجر:  ٢٨ـ(٢٩


Artinya  : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. (Q.S. Al-Hijr : 28-29).[10]

Dalam proses perkembangan dan pertumbuhan pisik manusia tidak ada bedanya dengan proses perkembangan dan pertumbuhan pada hewan, hanya pada kejadian manusia sebelum makhluk yang disebut manusia itu dilahirkan dari rahim ibunya, Tuhan telah meniupkan ruh ciptaan-Nya ke dalam tubuh manusia. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan karena Tuhan tidak meniupkan ruh pada hewan.[11] Menurut Azhar Basyir yang pertama harus dipahami adalah bahwa manusia  berasal dari ruh ciptaan Allah (ruhun-minhu).[12] Manusia terdiri dari dua substabsi yaitu materi yang berasal dari bumi dan ruh dari Tuhan. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa hakikat manusia adalah ruh, sedangkan jasad adalah hanyalah alat yang dipergunakan oleh ruh untuk menjalani kehidupan di dunia ini.
Dalam pandangan Ibnu Khaldun, manusia secara eksistensial adalah makhluk yang terdiri dari jasmani dan rohani,[13] dalam kemampuannya manusia berhubungan dengan realitas “atas” dan “bawah”. Melalui realitas bawah manusia berhubungan dengan raga dan lewat raga berhubungan dengan dunia fisik, sedangkan melalui realitas atas, jiwa manusia berhubungan dengan dunia ruhaniyah, itulah yang disebut dengan dunia malaikat.[14]
Yang membedakan antara manusia dengan binatang adalah kemampuan sapiens, economicus, dan religius, hal ini dikarenakan manusia memiliki perangakat yang tidak dimiliki oleh binatang yaitu akal dan kemampuan berfikir, binatang hanya memiliki nafsu syahwat, tidak mempunyai akal.
Sedangkan yang membedakan antara manusia dengan malaikat adalah manusia mempunyai akal dan nafsu syahwat, sedang malaikat hanya  mempunyai akal, tidak mempunyai nafsu syahwat. Maka dengan akalnya manusia mempunyai bagian tingkah laku seperti bagian yang dimiliki oleh malaikat, dan dengan tabiatnya/nafsu syahwatnya manusia memiliki bagian tingkah laku seperti bagian yang dimiliki oleh binatang. Oleh karena itu apabila tabiatnya/nafsu syahwatnya itu mengalahkan akalnya maka dia akan lebih jelek dari pada binatang. Dan begitu juga sebaliknya apabila akalnya dapat mengalahkan tabiatnya/nafsu syahwatnya maka dia lebih baik dari pada malaikat.[15]
Manusia diciptakan Allah SWT dalam struktur yang paling baik diantara makhluk yang baik. Ia juga dilahirkan dalam keadaan fitrah, bersih dan tidak ternoda. Pengaruh-pengaruh yang datang kemudianlah yang akan menentukan seseorang dalam mengemban amanat sebagai khalifah-Nya.[16] Sebagaimana Nabi Muhammad bersabda :
عن أبى هريرة ؛ أنه كان يقول : قال رسول الله صلى الله عليه  وسلم
ما من مولود الا يولد علىالفطرة  فأبواه يهودانه  وينصرانه  ويمجسانه.
(رواه    مسلم) [17]

Artinya  :  “Dari Abu Hurairah katanya : Bersabda Rasulullah Saw. tiap-tiap anak dilahirkan dengan keadaan putih bersih maka dua ibu bapaknya yang meng-Yahudikan atau me-Nasranikan atau me-Majusikan”. (H.R. Muslim).
Allah SWT memberikan anugrah berupa fitrah atau potensi kepada manusia, yang harus dikembangkan dan diaktualisasikan agar dapat memberikan manfaat bagi kepentingan hidupnya. Sebagai khalifah, ia haruslah memiliki kekuatan untuk mengolah alam dengan menggunakan segenap daya dan potensi yang dimilikinya. Sebagai ‘abd ia harus melaksanakan seluruh usaha dan aktifitasnya dalam rangka  ibadah kepada Allah SWT.[18] Dengan pandangan yang terpadu ini maka sebagai khalifah tidak akan berbuat sesuatu yang mencerminkan kemungkaran atau bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Untuk dapat melaksanakan fungsi kekhalifahan dan ibadah dengan baik, manusia perlu diberikan pendidikan, pengajaran, pengalaman, ketrampilan, tekhnologi dan sarana pendukung lainnya. Ini menunjukkan konsep khalifah dan ibadah dalam al-Qur’an erat kaitannya dengan pendidikan.
Pendidikan merupakan suatu usaha untuk melahirkan masyarakat yang berkebudayaan serta melestarikan eksistensi masyarakat selanjutnya, dan pendidikan akan mengarahkan kepada pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.[19]
Selain itu, dalam Islam, pendidikan bertujuan menumbuhkan keseimbangan pada kepribadian manusia melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri, perasaan, dan kepekaan tubuh manusia. Karena itu pendidikan seharusnya menyediakan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya. Spiritual, intelektual, imaginatif, fisikal, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencari kebaikan dan kesempurnaan. Pada gilirannya tujuan pendidikan Islam adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah SWT pada tingkat individual, masyarakat, dan kemanusiaan pada umumnya.[20]
Apapun dan bagaimanapun kesimpulan ilmu pengetahuan tentang hakikat manusia, dimaksud dijadikan dasar untuk pembinaan kepribadian manusia. Dengan mengerti struktur jiwa dan hakikat manusia, maka manusia akan memahami dan menyadari hidup dan kehidupan yang mulia disisi Allah SWT. Berkaitan dengan pendidikan, dengan mengetahui tentang kedudukan manusia dan potensi yang dimiliki serta peranan yang harus dijalankannya, maka diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar bagi perumusan tujuan pendidikan Islam, pendekatan yang harus ditempuh dalam proses pendidikan Islam serta aspek-aspek lain yang mendukung dalam pendidikan Islam.
Pengetahuan tentang konsep manusia juga penting karena manusia merupakan subjek dan objek yang terlibat dalam kegiatan pendidikan. Tanpa ada kejelasan tentang konsep manusia dan pemahaman yang mendalam tentangnya, maka akan sulit menentukan arah yang akan dituju dalam pendidikan Islam.
Penulisan ini akan mendeskripsikan manusia dalam konsepsi Ibnu Khaldun dan mengadakan tinjauan dan pembahasan secara mendalam tentang implikasinya terhadap pendidikan Islam.

A.    Alasan Pemilihan Judul
Ada beberapa alasan essensial yang menjadi pertimbangan penulis dalam penyusunan judul skripsi “Manusia dalam Konsepsi Ibnu Khaldun dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam”, antara lain :
1.      Konsep manusia yang dijabarkan oleh Ibnu Khaldun memiliki corak pemikiran yang berbeda dengan pemikir-pemikir lain. Sebab disamping beliau  memiliki wawasan yang luas tentang Islam, beliau juga seorang intelektual muslim yang mempunyai pengetahuan mendalam dalam bidang sejarah, sosiolgi, filsafat, dan agama. Sehingga dalam menguraikan konsep manusia akan terasa pengaruh-pengaruh dari bidang-bidang ilmunya tersebut. Hal ini membuat pembahasannya lebih dinamis dan universal.
2.      Dengan menelaah konsep manusia yang mendalam, maka akan dapat mengetahui hakekat, eksistensi, dan karakteristik manusia, serta aspek-aspek lain yang berhubungan dengan penciptaan manusia di muka bumi sebagai khalifah. Dengan demikian akan terbentuk kesadaran berfikir tentang jati diri dan kepribadian manusia selaku makhluk Allah SWT yang paling sempurna.
3.      Konsepsi manusia hasil pemikiran intelektual muslim akan dapat membantu dalam merumuskan konsep pendidikan yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Dengan kata lain, tanpa adanya  pemahaman tentang konsep manusia  dan pengembangannya dalam Islam, maka konsep pendidikan Islam tidak akan dapat sepenuhnya berhasil dan mencapai tujuan.



B.     Penegasan Istilah
Untuk menghindari adanya kesalahpahaman dalam membahas atau menafsirkan judul di atas, maka perlu kiranya bagi penulis menjelaskan arti dari masimg-masing istilah yang ada pada judul “Manusia dalam Konsepsi Ibnu Khaldun dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam”, yaitu sebagai berikut :
1.      Manusia
Kata manusia dalam bahasa Arab (al-Qur’an) disebut dengan al-Basyar, an-Naas (al-Insaan), dan al-Ins. Ketiganya dianggap sinonim, meskipun jika dipahami lebih dalam terdapat perbedaan makna.[21] Dalam pembahasan ini yang dimaksud dengan manusia adalah yang berasal dari kata al-Insaan, yaitu makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki akal dan kemampuan berfikir.
2.      Konsepsi
Konsepsi mempunyai arti pengertian, pendapat (paham), rancangan (cita-cita) yang telah ada dalam pikiran.[22] Dalm judul ini yang dimaksud adalah pengertian, gambaran, dan pendapat Ibnu Khaldun tentang manusia.

3.      Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun adalah seorang tokoh dan pemikir muslim abad pertengahan yang mempunyai nama lengkap Abdul al-Rahman bin Muhammad bin Abi Bakar bin Hasan. Beliau dilahirkan di Tunis pada tanggal 27 Mei 1332 M, dari keluarga Aristokrat yang berasal dari Hadramaut dan wafat di Kairo pada tanggal 17 Maret 1406 M. Beliau dikenal sebagai filosof sejarah muslim dengan karyanya yang monumental yaitu “Muqaddimah”, dan beliau dikenal seorang yang briliyan dan jenius dalam berbagai ilmu pengetahuan.[23]
4.      Implikasi
Implikasi adalah mengandung, dampak atau pengaruh terhadap sesuatu.[24] Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, implikasi mengandung arti keterlibatan atau keadaan terlibat, termasuk atau tersimpul.[25] Pada judul ini implikasi yang dimaksud adalah pengaruh dan keterlibatan manusia dalam pendidikan Islam.
5.      Pendidikan Islam
Para ahli berbeda pendapat dalam merumuskan pengertian pendidikan Islam, diantaranya adalah yang dikemukakan oleh Dr. Ali Ashraf. Menurutnya, pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih sensibilitas murid-murid sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah, dan keputusan, serta pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan mereka diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam dirasakan.[26]
Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi memberikan pengertian pendidikan Islam adalah sebagai upaya mengembangkan berfikir bebas dan mandiri secara demokratis dengan memperhatikan kecenderungan peserta didik secara individual yang menyangkut aspek kecerdasan, akal, dan bakat yang dititik beratkan pada pengembangan akhlak.[27]
Sedangkan Ahmad D. Marimba juga memberikan pengertian bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukuran-ukuran Islam.[28]
Pada judul ini pendidikan Islam yang dimaksud adalah sebuah aktifitas untuk membentuk dan mengembangkan pengetahuan berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam.
Jadi yang dimaksud dengan judul “Manusia dalam Konsepsi Ibnu Khaldun dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam” adalah pengertian, gambaran, dan pendapat Ibnu Khaldun tentang manusia sebagai makhluk Allah SWT yang memiliki akal dan kemampuan berfikir dihubungkan dengan pengaruh dan keterlibatan manusia dalam pembentukan dan pengembangan pengetahuan yang berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam.



C.    Permasalahan
Dari beberapa uraian singkat di atas, maka permasalahan yang dapat penyusun rumuskanan adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana konsepsi manusia dalam pandangan Ibnu Khaldun?
2.      Apa dan bagaimana pendidikan Islam?
3.      Bagaimana implikasi konsep manusia menurut Ibnu Khaldun terhadap Pendidikan Islam?

D.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian

A.     Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :
1.      Untuk mendeskripsikan konsepsi manusia menurut Ibnu Khaldun.
2.      Untuk mengetahui lebih dalam dan menguraikan tentang pendidikan Islam.
3.      Untuk menguraikan implikasi dari konsep manusia Ibnu khaldun terhadap pendidikan Islam.

B.     Adapun kegunaan dari penelitian ini untuk :

1.      Mengungkapkan khasanah pemikiran Islam, yang masih terus harus digali.
2.      Memberikan kontribusi dalam menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya pendidikan Islam.

E.     Metode Penelitian
Dalam penelitian skripsi ini penulis menggunakan dua macam metode penelitian, yaitu metode pengumpulan data dan metode analisis data.

A.     Metode Pengumpulan Data

Metode yang dipergunakan untuk memperoleh data dalam penulisan skripsi ini metode penelitian kepustakaan ( library research). Dengan cara menuliskan, mengedit, mengklarifikasikan, mereduksi, dan menyajikan data yang diperoleh dari berbagai sumber yang tertulis.[29]
Untuk mendapatkan data-data tersebut ada beberapa sumber yang akan dipergunakan, yaitu :
1.   Sumber Data Primer
Sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber informasi yang mempunyai wewenang dan bertanggungjawab terhadap pengumpulan data atau penyimpanan data.[30] Sumber primer yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah dikembangkan dari buku Muqaddimah Ibnu Khaldun, terjemahan Ahmadie Thoha.
2.   Sumber Data Sekunder
Sumber data skunder yaitu informasi yang tidak secara langsung mempunyai wewenang dan bertanggungjawab terhadap informasi yang ada padanya.[31] Sumber ini diperoleh dari berbagai data, buku-buku yang secara tidak langsung berkait erat dengan pokok permasalahan antara lain :
1)     Ahmad Syafi’i Ma’arif, Ibnu Khaldun dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, Gema Insani Press, Jakarta, 1996.
2)     Aisyah bintu Syati, Manusia dalam Persfektif al-Qur’an, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1999.
3)     Ali Abdul Wahid al-Wafi, Ibnu Khaldun Riwayat dan Karyanya, Graffiti Press, Jakarta, 1985.
4)     Ali Ashraf, Horison Baru Pendidikan Islam, (pen. Sori Siregar) Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996.
5)     Fuad Baali dan Ali Wardi, Ibnu Khaldun dan Pola Pemikiran Islam, (terj. Mansuruddin dan Ahmadie Thaha), Pustaka Firdaus, Jakarta, 1989.
6)     Hadari Nawawi, Hakekat Manusia Menurut Islam, Al-Ikhlas, Surabaya, 1992.
7)     M. ‘Athiyah al-Abrasy, Pokok-pokok Dasar Pendidikan Islam, (terj. H. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry), Bulan Bintang, Jakarta, 1974.
8)     Murtadha Muthahari, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia dan Agama, Mizan, Bandung, 1998.
9)     Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (terj. Hasan Langgulung), Bulan Bintang, Jakarta, 1979.
10)   Rusman Thayyib, Darmu’in, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999.





B.     Metode Analisis Data

Metode Pembahasan yang akan digunakan terhadap konsepsi manusia menggunakan analisis-deskriptif yakni membuat pencandraan secara sistematis faktual dan akurat.[32] Dengan pola berfikir sebagai berikut :
1.      Pola Pikir Deduktif
Pola pikir deduktif adalah pola berfikir bertolak dari hal-hal yang sifatnya umum menuju kepada hal-hal bersifat khusus. Dengan pola pikir deduktif kita berangkat dari suatu pengetahuan yang umum dan bertitik tolak dari pengetahuan yang umum itu kita hendak menilai suatu kejadian khusus.[33] Metode analisis deduktif digunakan untuk menilai dan menganalisis rumusan pemikiran Ibnu Khaldun tentang konsepsi manusia.
2.      Poal Pikir Induktif
Pola pikir induktif, yaitu pola berpikir bertolak dari hal-hal yang sifatnya khusus menuju kepada hal-hal yang sifatnya umum. Berfikir induktif ini dimulai dari fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang kongkrit, kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa yang kongkrit itu dicari generalisasi yang mempunyai sifat umum.[34] Metode induktif ini digunakan untuk memformulasikan kerangka fikir yang lebih mendalam tentang implikasi konsep manusia Ibnu Khaldun terhadap pendidikan Islam.
3.      Pola Pikir Reflektif
Pola pikir reflektif adalah berfikir yang prosesnya mondar-mandir antara yang empirik dengan yang abstrak.[35] Hal ini bertujuan agar lebih mendapatkan hasil analisis yang akurat dan tepat sasaran.
4.      Pola Pikir Deskriptik Analitik
Yaitu seluruh hasil penelitian harus dibahasakan karena ada kesatuan mutlak antara bahasa dan pikiran, seperti badan dengan jiwa.[36] Dengan demikian penulis mencoba menguraikan pembahasan ini dengan paradigma penyusun sendiri sesuai dengan data-data yang diperoleh dari sumber-sumber yang ada.

F.     Sistematika Penulisan Skripsi
Dalam sistematika penulisan skrpsi ini penulis menggunakan sistematika penulisan yang diuraikan dalam tiga bagian yaitu bagian awal, bagian utama, dan bagian akhir.
1.      Bagian awal (prelemanasies) mencakup: halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, dan halaman daftar isi.
2.      Bagian utama merupakan isi pokok dari skripsi ini yang mencakup :
Bab I            :  Pendahuluan
Bab ini meliputi : Alasan pemilihan judul, penegasan istilah, permasalahan, tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
Bab II           :  Membahas tentang Manusia menurut  Pandangan Ibnu Khaldun. Pada bab ini meliputi : Biografi Ibnu Khaldun yang terdiri dari: latar belakang keluarga, Ibnu Khaldun dan karir Politik, pendidikan dan karya-karyanya. Konsepsi Manusia Ibnu Khaldun yang mencakup: pengertian dan hakekat manusia, eksistensi manusia, dan kesempurnaan manusia.
Bab III         :  Membahas tentang Konsep Pendidikan Islam yang meliputi : pengertian pendidikan Islam, tujuan pedidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam, pendidik, dan metode pendidikan Islam.
Bab IV              :   Analisis implikasi konsep manusia menurut Ibnu Khaldun terhadap pendidikan Islam. Bab ini adalah untuk mengetahui sejauh mana implikasi konsep manusia menurut Ibnu Khaldun terhadap pendidikan Islam yang meliputi: keterkaitan antara konsep manusia dengan pendidikan Islam, implikasi konsep manusia terhadap pendidikan Islam, dinamika kehidupan manusia dalam pendidikan Islam, manusia dan pendidikan ideal.
Bab V          :  Penutup
Yang berisi mengenai kesimpulan, saran-saran, dan kata penutup.
3.      Bagian akhir (reference matter) meliputi: daftar pustaka, daftar riwayat hidup penulis, dan lampiran-lampiran.




[1] R.H.A. Soenarjo, dkk., al-Qur’an dan Terjemahnya, CV. Toha Putra, Semarang, 1989, hlm. 13-14.
[2] Ali Ashraf, Horison Baru pendidikan Islam, (pen. Sori Siregar), Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996, hlm. 1-2.
[3] M. Yasir Nasution, Manusia Menurut al-Ghazali, Rajawali Press, Jakarta, 1988, hlm. 01.
[4] R.H.A. Soenarjo, dkk.., Op. Cit,  hlm. 859.
[5] Murtadha Muthahari, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia dan Agama, Mizan, Bandung, 1990, hlm. 27.
[6] Hadari Nawawi, Hakekat Manusia menurut Islam, Al-Ikhlas, Surabaya, 1992, hlm. 63-64.
[7] Murtadha Muthahari, Loc. Cit., hlm. 27.
[8] Jamaluddin Ancok, Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1995, hlm. 66.
[9] Ibid, hlm. 67-68.
[10] R.H.A. Soenarjo, dkk., Op., cit., hlm. 393.
[11] Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1995, hlm. 77.
[12] Muhammad Syamsuddin, Manusia dalam Pandangan KH. A. Azhar Basyir, MA., Titian Illahi Press, Yogyakarta, 1997, hlm. 77.
[13] Ibnu Khaldun, Muqaddimah, (terj. Ahmadie Thoha), Pustaka Pirdaus, Jakarta, 1986, hlm. 528.
[14] Fachry Ali, Realitas Manusia: Pandangan Sosiologis Ibnu Khaldun, (dalam M. Dawam Raharjo, Insan Kamil: Konsepsi Manusia menurut Islam), Grafitti Pers, Jakarta, 1987, hlm. 156.

[15] Usman Alkhaibawi, Durratun Nasihin, (AB. Abdullah Shonhadji, Almunawar, Semarang, tt., hlm. 109-110.
[16] Ibnu Khaldun, Loc. Cit., hlm. 145.
[17] Imam Abi Husain Muslim Ibn Hajjaj, Shahih Muslim, Juz Iv, Darul al-Khutub, Beirut, tt. hlm. 2047.

[18] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997, hlm. 41.
[19] Marasudin Siregar, Konsepsi Pendidikan Ibnu Khaldun: Tinjauan Fenomenologis, dalam Rusman Thoyyib, Darmu’in, Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999, hlm. 16.
[20] Ali Ashraf, Op. Cit., hlm. 2.
[21] Aisyah bintu Syati, Manusia dalam Persfektif al-Qur’an, Pistaka Firdaus, Jakarta, 1999, hlm. 1.
[22] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1993, hlm. 456.
[23] Depag. RI., Ensiklopedi Islam di Indonesia, Perguruan Tinggi IAIN Jakarta, Jakarta, 1992, hlm. 387.
[24] Tim Penulis Rosda, Kamus Filsafat, Remaja Rosda Karya Offset, Bandung, 1995, hlm. 155.
[25] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Op. Cit., hlm. 327.
[26] Ali Ashraf, Op.Cit., hlm. 23.
[27] Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakartas, 1970, hlm. 19.
[28] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, PT. al-Ma’arif, Bandung, 1989, hlm.23.
[29] Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Rake Sarasih, Yogyakarta, 1996, hlm. 30.
[30] Moh. Ali, Penelitian Kependidikan, Prosedur dan Strategi, Angkasa, Bandung, 1987, hlm. 42.
[31] Ibid, hlm. 42.
[32] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, CV. Rajawali, Jakarta, 1983, hlm. 18.
[33] Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, Andi Ofset, Yogyakarta, 1984., hlm. 42.
[34] Ibid, hlm. 42.
[35] Noeng Muhadjir, Op. Cit., 66.
[36] Ibid, hlm. 64.

Kindly Bookmark and Share it:

0 comments:

Post a Comment

Google+ Badge

Daily Horoscopes

 

About Me

Recent Posts

Bookmark & Share

Recent Comments

HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS HAD'S FRIENDS